MEDSCUPE, Mesin Ergonomis Pencegah Sampel Tertukar di Rumah Sakit

  • By USINers
  • In Ners News
  • Posted 14 Juli 2016

NERS NEWS - Menjadi salah satu penerima dana hibah Program Kreatifitas Mahasiswa oleh Kemenristek DIKTI di tahun 2016 merupakan kebanggan tersendiri sebagai wujud kontribusi untuk  almamater tercinta, apalagi jika kelak mendapat kesempatan  bertanding di PIMNAS ke 29. Itulah yang dirasakan Mokhammad Dedy Batomi (Otomasi Sistem Instrumentasi 2013), Mokhammad Deny Basri (Otomasi Sistem Instrumentasi 2013), Masunatul Ubudiyah (Keperawatan 2013), Pratama Bagus Baharsyah (Otomasi Sistem Instrumentasi 2013), dan Sucowati Dwi Jatis (Keperawatan 2014) Universitas Airlangga. Mau tidak mau, suka tidak suka ini merupakan prinsip dalam hidup kami sebelum masuk di Unair. Berkontribusi itu wajib hukumnya, apalagi kami kuliah dibiayai oleh negara” Ujar Dedy yang sedang asyik melakukan programming software alat. Sependapat dengan Dedy, Masunatul juga mempunyai alasan kenapa dia mengikuti kompetisi ini. “Sebenarnya kami semua tidak hanya melulu ingin masuk nominasi PKM. Namun lebih dari pada itu kami ingin meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan  di rumah sakit Indonesia melalui inovasi yang kita ciptakan ini” tambah Masunatul. Kelompok menerangkan, saat ini mungkin masyarakat sudah tidak asing lagi dengan kasus malpraktik, sampel uji  tertukar, tidak valid, dan hasil uji lab yang lama tersampaikan, bahkan hilang. Sebenarnnya semua itu disebabkan banyak faktor, bisa dikarenakan  tenaga kerjanya atau dari alat yang digunakan sendiri,  namun melihat semua itu pihak rumah sakit tak hanya tinggal diam. Kini di sejumlah rumah sakit sudah mulai dibangun mesin pipa penghantar specimen uji ke laboratorium. Mengapa ini penting? Karena pada dasarnya specimen memang harus cepat diuji agar komponen di dalamnya tidak berubah. Selain itu juga menghindari peluang sampel tertukar saat  semua dikerjakan manual. Sayangnya, mesin ini ternyata belum secara penuh mengontrol otomatis pengiriman sampel. Sesampainya sampel di ruang laboratorium, petugas masih harus memilah-milah sampel sesuai jenis untuk di antarkan ke tempat uji masiing-masing. Banyak sekali jenisnya, ada darah, urin, feses, jaringan, sputum dan lain-lain. darah sendiri masih banyak jenis pemeriksaannya, terdiri dari uji plasma, eritrosit, leukosit dan lain-lain. Hal ini membuka peluang tertukarnya sampel dan memakan waktu yang lebih lama. Itulah yang mengilhami tim PKM ini membuat sebuah terobosan baru dengan judul MEDSCUPE: (Medical Specimens Cube Shipper) Alat Ergonomis Pengirim Dan Direct Labelling Spesimen Pasien Berbasis Pengolahan Citra Solusi Kasus Malpraktek Sampel Tertukar Di Laboratorium Medis.


Medscupe (Medical Specimens Cube Shipper) merupakan alat yang mempunyai sistem kendali dan kontrol spesimen berbasis pengolahan citra warna. Alat ini mampu meningkatkan efisiensi proses pelabelan maupun pengiriman spesimen pasien ke laboratorium sehingga diharapkan dapat meminimalisir terjadinya kasus malpraktik sampel tertukar di laboratorium medis. Efisiensi Medscupe terletak pada bagian pipa terakhir yang berhenti  di ruang Laboratorium medis rumah sakit. Medscupe memberikan percabangan otomatis yang memiliki kamera scanning citra solusi dan slot khusus pemisah sesuai warna yang dideteksi. Dengan begitu, specimen dengan cepat akan terklasifikasi  dan sampai di tempat analisis  jenis specimen masing-masing dengan tepat. Berbicara tentang kendala, Deny mengutarakan sejak awal dalam proses pembuatan prototype alat ini memang sering ditemukan banyak kendala, mulai dari pembelian komponen sampai tahapan akhir yaitu programming dan scanning. Kita sekelompok tidak dalam fakultas yang sama namun terdiri dari 2 fakultas yaitu keperawatan dan Vokasi, sehingga bisa dipastikan jam kuliah kami juga berbeda. Dampaknya waktu untuk untuk berkumpul untuk  sekadar diskusi atau menyelesaikan alat ini susah, sehingga waktu malam ba’da sholat maghrib sampai jam 10 malam selalu kami sisihkan untuk membuat alat ini setiap minggunya, Tambahnya. Saat ditanya harapan kedepan tentang prototype ini, Deny mempunyai harapan besar untuk bisa menjalin  mitra dan alatnya bisa diterapkan mengingat urgency kebutuhan di pelayanan kesehatan. Saya berharap agar alat ini nanti bisa dipatenkan dan terlebih bisa digunakan di pelayanan kesehatan, dan juga semoga PKM KC ini mempu menembus pimnas dan pulang membawa emas untuk  Universitas Airlangga, harapnya.

 

Penulis         : Sucowati Dwi Jatis

Pin It
Hits 386

Terpopuler